Isnin, 25 Oktober 2010

KISAH NYATA - 7 KALI NAIK HAJI TAK DAPAT LIHAT KA'ABAH

DIPANJANGKAN UNTUK IKTIBAR BERSAMA
--------------------------------------------------------------------------------

LAHAULAWALA QUWWATAILLABILLAH



thecorner.files.wordpress.com/2007/12/kaabah.jpgBacalah..... .sbg PERINGATAN kita bersama...


Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan

nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang

kelima.Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang

dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara material,mereka

memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala kelengkapan sudah

disiapkan.Ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Keadaan keduanya

sihat walafiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan

thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan

Semesta Alam. "Labaik Allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya

Allah".

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu,

lihatlah Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi

berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi dia

terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh

anaknya.

Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah

ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak

mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia

mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.

Padahal, tak ada masalah dengan kesihatan matanya.. Beberapa minit yang

lalu dia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki

Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak

yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah.. Ia shalat memohon ampunan-Nya.

Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap

rahmatNYA.Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala

kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang

sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugerah-Nya, dengan

menatap Ka'bah, kelak. Anak yang soleh itu berniat akan kembali

membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak

kepadanya. Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali

dibutakan didekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan

symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak dapat melihat

Ka'bah. Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun

berikutnya. Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah. Setiap berada di

Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap.

Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu

berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.Hasan tak habis

fikir, dia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan

Ka'bah.. Padahal, setiap kali berada jauh dari Ka'bah, penglihatannya selalu

normal. Dia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga

mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperlakukan ibunya,

sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk

dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim

ulama, yang dapat membantu permasalahannya.

Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal

kerana kesohlehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).. Tanpa

kesulitan bererti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia

pun mengutarakan masalah kepada ulama yang soleh ini. Ulama itu

mendengarkan dengan saksama, kemudian meminta agar Ibu Hasan perlu

menelefonnya. Anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah

kelahirannya, dia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi

tersebut.

Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun menelefon

ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah

suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali,

mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa

lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap

terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya. . "Anda

harus berterus-terang kepada saya, karana masalah anda bukan masalah

senang," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian

dia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi

ulama itu tidak mendapat sebarang khabar dari Sarah.

Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah

menelefon. "Ustaz, waktu masih muda, saya bekerja sebagai jururawat

di rumah sakit," cerita Sarah akhirnya.

"Oh, bagus..... Pekerjaan jururawat adalah pekerjaan mulia," potong

ulama itu.

"Tapi saya mencari wang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara

saya itu halal atau haram," ungkapnya terus terang. Ulama itu terkejut.. Ia

tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.

"Disana..... " sambung Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karana

tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang

menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya

perempuan, dengan imbuhan wang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan

mereka."

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah

"Astagfirullah. ....." betapa tega wanita itu

menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan

anak. bayangkan, betapa banyak keluarga

yang telah dirosaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah

tidak tahu, bahawa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.

Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas.

Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam

masalah mahram atau muhrim, iaitu orang-orang yang tidak boleh

dinikahi."Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah. "Cuma itu ?"

tanya ulama terperanjat.

 
"Tahukah anda bahawa perbuatan anda itu dosa yang luar biasa, betapa

banyak keluarga yang sudah anda hancurkan!". ucap ulama dengan nada

tinggi."Lalu apa lagi yang Anda kerjakan? "tanya ulama itu lagi sedikit kesal.

 
"Di rumah sakit, saya juga

melakukan tugas memandikan orang mati." "Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,"

kata ulama. "Ya, tapi saya memandikan orang mati karana ada kerja sama dengan tukang sihir."

"Maksudnya?" tanya ulama tidak mengerti. "Setiap saya bermaksud

menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas

sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan

tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan

benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati."


"Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya

memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan

lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti

terpental, tidak hendak masuk, walaupun saya sudah menekannya

dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya cuba lagi begitu

seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu

dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan." Mendengar

pertuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak

marah.

"Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya Allah....!!! Saya tidak dapat

bantu anda. Saya angkat tangan"Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui

perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang

manusia, apalagi dia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega,

begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan

sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata, "Anda harus memohon ampun

kepada Allah, kerana hanya Dialah yang dapat mengampuni dosa Anda."



Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian

ulama tidak mendengar khabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia

mendapat tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah

telah bertaubat atas segala yang telah diperbuatnya. . Ia berharap Allah

akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang

kepadanya.Kerana tak juga memperoleh khabar, ulama itu menghubungi

keluarga Hasan di Mesir.



Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan

khabar Sarah,ternyata khabar duka yang diterima ulama itu. "Ummi sudah

meninggal dua hari setelah menelefon ustad," ujar Hasan. Ulama itu

terkejut mendengar khabar tersebut. "Bagaimana ibumu meninggal, Hasan

?". tanya ulama itu.



Hasan pun akhirnya bercerita : Setelah menelefon ulama, dua hari

kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan

adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian



dimasukkan jenazah atas izin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras.



Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu berulang kembali.

Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu

berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun penghantar jenazah

yang menyedari bahawa tanah itu kembali rapat.



Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para penghantar yang

menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh

terjadi.Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan

perbuatan si mayat.





Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus-asa kerana pekerjaan

mereka tak juga selesai. Siang pun berlalu, petang menjelang, bahkan

sampai hampir maghrib, tidak ada satu pun lubang yang berhasil digali.

Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan

saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang..



Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak

tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur.

Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di

tanah perkuburan seorang diri. Dengan izin Allah, tiba-tiba berdiri seorang

laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang

Mesir.

Lelaki itu tidak tampak wajahnya, kerana terhalang tutup kepalanya

yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata

padanya," Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!". kata orang itu.



Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu

akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur menggali lubang dan

kemudian mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan menengok ke

belakang, sampai tiba di rumahmu, "pesan lelaki itu. Hasan mengangguk,

kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi

pemakaman,terselit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi

dengan jenazah ibunya.



Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan,

melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti

seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari

arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan.Dengan

langkah seribu, dia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Demikian

yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh

wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman kerana

terbakar.



Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan

Hasan. Dia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan

meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah

dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan,

apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu. Ulama itu

meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun

dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan izin Allah akan

hilang.

Benar saja,tak berapa lama kemudian Hasan kembali memberitahu ulama

itu, bahawa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa,

semakin hari bekas kehitamannya hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan

ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun

perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh

Allah SWT.



Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita

semua. Wang $50.00 atau $50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke

kotak derma masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45

minit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu

itu untuk pertandingan bola sepak. Semua insan ingin memasuki syurga

tetapi tidak ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk

memasukinya.



Tiada ulasan:

Lagu-lagu MP3